Sabtu, 27 Desember 2014

HITAM ATAU PUTIH, ITULAH ABU - ABU.

                                          HITAM ATAU PUTIH, ITULAH ABU - ABU.

    Tanggal 16 Juli 2011 tepat pukul 07:00 Saya, M Wildan memulai masa putih abu - abu di Madrasah aliyah yang setingkat dengan SMA Cuma beda atap,kalau SMA di bawah atap departemen pendidikan,sedangkan Madrasah aliyah di bawah naungan DEPAG, sebuah sekolah yang indah, ya MAN CIREBON 1,
Sekolah yang letaknya strategis soalnya ada di pasar rakyat, pasar ayam, meskipun kata orang bau unggas tapi itu tidak menyurutkan semangat saya untuk bersekolah disini. Awalnya memang menegangkan,apalagi baru masuk gerbang di hari pertama masuk sekolah aja sudah di hadang beberapa orang memakai jas biru gelap beserta bapak guru berkumis, suara yang khas dan sambil merokok, sambil melewati mereka semua saya merasa ngeri sekali, mereka semua terus menatap saya dari ujung kepala saya sampai sepatu saya yang tentu saja masih baru, namun rasa itu hilang begitu saja, ketika bertemu teman - teman Mts saya yang di terima di sekolah ini juga. Ucup,Ryan,Afifah,Farikha,Tria,Rere namun sayang kami bertujuh nggak satu kelas, Ryan, Tria dan Afifah di X9, Ucup di X10, Rere X4 sementara Farikha menjadi tetangga kelas X6 saya di X5.
     Ketika masuk kelas X6, saya hampir tidak mengenali siapapun di situ, hanya Sufyan rekan SD saya dulu yang saya kenal, namun dia sudah berada di bangku paling depan bersama Surana teman SMP nya yang akhirnya menjadi kenalan pertama saya dikelas. Kami sedikit berbincang - bincang, namun bel masuk menyudahi perbincangan kami, kami masuk dan di instruksikan oleh satu suara dari speaker yang terpasang di kelas kami yang ternyata adalah suara bapak Rojak yang kata alumni sih galak. Akhirnya, setelah semua murid masuk ada yang duduk di samping saya bernama Mustopa Ali, saya perhatikan sih orangnya pendiem, dan benar saja,saya dengan pede nya ngajak kenalan. “Namanya siapa?” kalimat itu dengan pedenya saya lontarkan kepada Mustopa. “Mustopa Ali, situ namanya siapa? Terusdari sekolah mana?”. “Wildan, Mts Salafiyah Bode.” Lagi, baru berbincang sebentar kami harus ngaji dulu, soalnya ngaji pagi adalah agenda sekolah yang harus di jalani. Setelah ngaji, kakak - kakak kelas yang akan nge MOS kami masuk. Sambil mengabsen, saya perhatikan sekitar saya. Saya duduk di bangku kedua baris kedua dari kiri. Di depan ada Sufyan sama Surana, saya dan Mustopa kedua, belakang saya ada Mudzakir sama Bustomi, lalu Nendi dan Ridho. Sementara baris kami terlihat masih canggung, baris sebelah kami rupanya sudah saling berkenalan, Satori, Trisno, Fuad, Sodikin, selalu nyeletuk apalagi di tambah dengan duo Indramayu yang tentu saja punya logat sendiri, Farhan dan Ulum.Setelah hari pertama selesai tepat pukul 14:00, kami bergegas pulang sambil membicarakan ‘benda gila’ apa saja yang akan di bawa buat besok MOS.
    Hari kedua berangkat ke ‘pasar ayam’ seperti kemarin naik kuda besi bernopol E 4501 LT yang kata mang Sulaeman, satpam sekolah sih di baca ASOI. Setelah sampai, untukkedua kalinya harus melewati barisan jas biru gelap yang mereka sebut diri mereka OSIS, namun kali ini beda, saya lewat tidak lurus kaya kemarin, tapi belok ke kanan tembus ke kantin mang Kowi lalu lurus saja, dan sampailah saya di kelas yang kata Bustomi sih ‘perempatan WC’ soalnya tepat berada diperempatan yang banyak orang selalu menuju samping kelas kami untuk pergi ke WC, entah hanya sekedar cuci muka, kebelet beneran, atau hanya ingin bertemu si do’i. Hari kedua ini sama seperti kemarin, hanya saja kali ini ada MPK yang masuk ngambek karena kami banyak belum lengkap memakai atribut, termasuk saya yang waktu itu di suruh kedepan karena atribut saya tidak lengkap. Namun, saya bersikeras untuk duduk, soalnya MTs saya tidak ada dasi, sepatu bebas, akan tetapi MPK itu menggebrak meja dan menyuruh saya maju, ketika hampir di marahi sang ketua MPK itu, saya di selamatkan oleh salah satu anggota MPK yang kebetulan adalah alumni MTs Salafiyah yang menasehati sang ketua dan memaklumi saya karena memang begini atribut di sekolah saya dulu. Alhamdulillah saya enggak jadi dimarahi, tapi sang ketua MPK itu melampiaskannya dengan merobek celana ketat milik Surana. Saya merasa kasian, soalnya kata Surana sih celananya baru beli kemarin. Miris sekali. Di hari ketiga, lagi, Surana menjadi korban MPK, kali ini dia di suruh memakan roti yg ukurannya lumayan besar dalam waktu 15 detik, kasian. Pada malam harinya kami menginap di sekolah ini,sekitar pukul 10 malam, saya yang biasanya sudah terlelap kali ini harus menahan kantuk yang terus menyerang saya, apalagi waktu itu pak Rojin yang punya suara khas itu menayangkan video berdurasi sekitar 10 menit yang menayangkan siksa kubur, bencana alam, yang tentu saja membuat para murid ketakutan di tambah lagi suara pak Rojin yang mengatakan “bayangkan jika andapulang dari sini ada bendera kuning berkibar di depan rumah anda dan yangmeniggal ternyata adalah orang tua anda!” sontak hampir semuanya ketakutan dan menangis, namun beda dengan saya, yang malah ketiduran bersama Satori.
Pagi harinya kami di kejutkan dengan pembagian kelas lagi, karena ada kelas ketrampilan untuk X2 dan X3. Satori, Faisal, Ridho,Trisno, Mustopa dan beberapa teman lainnya masuk ketrampilan, sehingga ada pengacakan kembali, beruntung kami yang tidak ikut ketrampilan di pastikan tetap bareng di X6, hanya ada tambahan Wandiyanto, Muhbit, Bagus, dan Suparta.Posisi duduk pun berubah, saya pindah ke baris pertama posisi ke 3 bareng Farhan, depan kami ada Nendi bareng Bustomi, dan paling depan ada Ulum dan Wandiyanto, sementara di belakang ada Fuad Sodikin dan Muhbit, Samping saya dan Farhan ada Suparta dan Surana yang ternyata adalah tetangga, sementara Mudzakir bareng Bagus yang dipilih untuk menjadi ketua kelas X6 oleh ibu Nurhaidah selaku wali kelas X6.
       Hari terus berganti, Waktu terus berjalan, satu sama lain sudah saling mengenal, alhasil Fuad, Ulum, Sodikin, Nendi, yang notabene doyan ngoceh di tambah dari perempuan ada Stevani, Dewi, Indah, Iba, Restu, dan Rifqi yang kata Fuad sih Mama gede,tapi kata sodikinnya gardu listrik berjalan. Dengan begitu, kelas X6 dinobatkan sebagai kelas paling ribut oleh guru - guru. Setelah sebulan berlalu kami sudah akrab sekarang, apalagi laki - laki kalo mau jajan pasti kaya kereta, satu kesini buntutnya ngikut sini, pokoknya kebersamaannya terasa banget, apalagi pas waktu MOE di bulan Maret di Jalaksana, Kuningan. Itu adalah pengalaman yang amazing, camping di lapangan yang di kelilingi kuburan sesuatu yang belum saya lakukan sebelumnya, mandi di sungai yang bening bareng Nendi dan Farhan di tambah pemandangan sawah yang hijau serta gunug ciremai yang gagah adalah sesuatu yang tak terlupakan, namun kegembiraan itu berakhir ketika padamalam terakhir saya mengalami demam dan panggilan dari pak Rojin “M Wildan darikelas X6 di tunggu orang tuanya di sumber suara” benar - benar mengakhiri camping pertama saya itu dan saya harus pulang ke rumah saya di Bode, sungguh pengalaman dan penyesalan yang luar biasa ketika itu.
     Semakin kesini kelas makin menggila, saya yang awalnya pendiem dan malu - malu apalagi sama perempuan, kini memberanikan diri untuk mengenali mereka, waktu itu saya kenalan sama Lulu yang jago english sekaligus rival saya untuk bisa meraih nilai bagus di pelajaran bahasa nomer satu di dunia itu. Satu - satunya prestasi yang saya banggakan di english adalah ketika mendapat skor nyarissempurna 99 dan berhasil mengalahkan Lulu, saya sangat bahagia sekali ketika itu, dan Mam Umi seakan tidak percaya dengan apa yang saya lakukan tersebut.
    Ketika UTS pertama, X6 duduk berdampingan dengan XII agama, saya duduk bareng Kak Faqih namanya, walaupun tampangnya sangar sekali tapi ketika mengerjakan soal - soal keagamaan dia nampak rileks sekali mengisinya. Saya memberanikan diri untuk bertanya yang kebetulan saya lupa terjemahan ayat yang ada di soal, dia dengan mudahnya mengartikan soal saya dengan kata per kata, dan lebih hebatnya lagi essay yang tadinya saya jawab, ternyata kata kak Faqih salah, dia membenarkannya dan ketika di bagikan hasilnya ternyata essay saya yang di jawab oleh kakak kelas itu sempurna, tak ada salah sedikitpun. Dan ternyata banyakteman - temannya yang menanyakan jawaban ke kakak Faqih ini, termasuk kak Fathonah yang menurut saya sih cantik, tapi sayang dia rajin nyontek sana nyontek sini. Jadi di situ saya benar - benar terkecoh oleh tampang.
     Di akhir tahun, ada acara namanya pensi atau pentas seni, seluruh siswa di wajibkan ikut untuk mendongkrak nilai mata pelajaran seni budaya. Bagus mengatur semuanya agar adil, saya masuk ke kelompok drama,yah walaupun enggak menang tapi banyak hal untuk dikenang, salah satunya rasa kekeluargaan yang sangat terasa sekali ketika kelompok drama ini hampir bubar, karena ada beberapa yang ingin pindah ke kelompok lain dan banyak yang malas latihan, di saat itu pula kelompok lain menyemangati kami untuk bangkit dan tampil di pensi tersebut. X6 menggondol 3 piala, lewat MC, tari, dan musikalisasi puisi.
Dan akhirnya setelah kuranglebih 1 tahun bersama semuanya harus terpisah karena masuk kelas XI harus memilih jurusan masing - masing. Saya, Surana, Feni, Santy, dan Ari adalah alumni X6 yang masuk ke IPS 4.
    Dan di kelas XI ini saya tidak menyangka bertemu dengan wali kelas yang ternyata adalah orang Bode juga, namanya Pak Syibli, sewaktu baru masuk di kelas XI ini yang letaknyadi depan kantor, saya sangat terkejut, karena orang - orang disini sangat beda dengan X6 yang langsung ‘nyetel’. Di sini saya harus beradaptasi dulu, walaupun ada 4 orang yang sudah saya kenal plus satu orang Syaekhu yang dulu pernah mondok di pesantren samping rumah saya, kenalan pertama saya datang dari seorang yang tampil sederhana, namanya Badruzzaman. Sewaktu pemilihan struktur organisasi kelas, pak Syibli sangat mengandalkan sekali kepada saya, karena Cuma saya yang waktu itu beliau baru kenal. Akhirnya terpilih lah Surana rekan saya. Terpilihnya Surana rupanya menarik banyak perempuan yang ingin lebih dekat dengannya, salah satunya Vivi. Dia juga perempuan yang pertama kali Surana lirik di kelas ini, dan dia bilang ke saya “Dan ni cewek cantik tapi keliatannya galak” dan saya jawab “kan baru pertama jadi baru keliatannya aja”. Mulai saat itu saya dan Surana sering main ke bangku itu untuk sekedar berbincang dengan Tuti, Solekha yang kalo ketawa punya ketawa yang khas, atau ngemil bareng Liyanah biasanya.
     Dan ketika UTS kelas saya kali ini satu ruangan dengan adik kelas dari X9. Mata saya tertuju kepada adik kelas memakai tas berwarna biru tosca, sayangnya dia berada di ruangan sebelah yang di isi oleh XI ips 4 nomer absen 1 - 20,sedangkan saya absen 21. Ketika waktu istirahat, saya masuk ke ruangan sebelah,sambil tengok kanan tengok kiri cari perempuan yang anggun sekali menurut saya,dan ketika saya dan teman - teman saya sedang asyik ngobrol sambil bermain -main, tak sengaja saya melempar penghapus yang hampir mengenai kepalanya, dia pun menoleh kebelakang saya pun mengambil penghapus itu dan sambil menatapnya,dalam hati ini berkata “cantik sekali anak ini”. Dan hanya saling menatap tanpa seuntai kata, tentu itu adalah hal yang bodoh untuk tidak mengajaknya berkenalan. Ketika bel pulang, saya iseng nanya - nanya ke temen sekelas,ketika sedang nanya ke Badruz, saya melihat Vivi sedang ngobrol dengan perempuan itu. Sontak ketika mereka berpisah di gerbang saya langsung nanya ke Vivi, “Vi, itu siapa? Kamu kenal?” langsung di jawab “oh itu sih temen pondokdulu, tapi sekarang akunya udah enggak mondok, kenapa? Kamu suka ya?” ketika Vivi bilang begitu saya tanpa pikir dulu bilang “iya” dan Vivi kembali menjawab “wah dasar kamu, playboy. Namanya Muthoharoh, panggilannya Mumut. Udah ah mau pulang nih, nanti aku kasih nomernya aja deh.” Dengan jawaban Vivi seperti itu sayapun tersenyum lebar sekaligus heran, heran karena mungkin ada benarnya jugakata Vivi, kalo saya ini playboy, soalnya saya bisa mengobrol dengan 5 perempuan dan bisa membagi waktunya, tapi saya sih sebut itu sebagai manuverlaki - laki. Ketika pulang, saya baca sms dan ternayata Vivi langsung ngirim nomer Mumut ke saya. Tanpa pikir panjang saya langsung sms “Assalamualaikum”dan 2 menit kemudian di bales “walaikumusalam, kak Wildan ya?”. Saya kaget bukan main karena dia sudah tahu terlebih dahulu, “kok tau? Tau darimana Mut?”di jawab “dari mba Vivi kak”. Benar saja ternyata Vivi yang ngasih tau.
     Besoknya saya mengobrol dengan Vivi, dan lebih kaget lagi “Dan, si Mumut tuh suka sama kamu,respon coba” saya pun langsung membalas ucapan Vivi dengan tiga huruf saja“Hah?” kaget bukan main, tapi mau bagaimana lagi? Begini saja nilai saya sudah‘ngos - ngosan’ apalagi nanti pacaran. Waktu terus bergulir, dan ketika sudahakrab banget, saya putuskan untuk kakak ade’an aja sama mumut. Walaupun jawaban dia sedikit dengan nada kecewa, tapi dia mau menerimanya.
     Seperti tahun lalu, setiap awal tahun di bulan ke 4 atau ke 5 akan diadakan pensi,kala itu ketua kelas sudah ganti Badruz karena Surana mengundurkan diri. kali ini saya tidak ikut drama tapi ikut ke perkusi yang hampir semua laki - laki di kelas gabung kecuali Sigit MC, Syaekhu dan Zakariya drama. Seperti biasa, seperti tahun lalu, ada saja yang membuat saya jengkel, banyak yang malas latihan. Saya pun bosan terus - terusan diam, niat hati ingin membangkitkan semangat teman -teman, namun mereka salah menagrtikan di sangka saya ini egois, namun daripada terus berkelanjutan masalahnya saya mengajak damai, dan akhirnya kami bisa latihan bareng dengan lagu yang saya karang sendiri bersama zakariya walaupun dapat nyontek dari lagu ‘buruh tani’. ‘berjuta kali di marahi, bagiku tetap saja happy’ begitu lahsalah satu lirik yang saya ciptakan. Waktu penampilan pensi semakin dekat, dankami pun terus giat berlatih, dan waktu itu pun tiba. Hari H pensi datang, kami tampil paling akhir jam 15:00 tapi berhubung kebijakan ketua yang ingin gladiresik pagi akhirnya kami pun memutuskan untuk datang di sekolah jam 9 pagi.Namun seperti biasa, jalan lurus tak selamanya mulus, personil perkusi Saefullah belum datang juga hingga dzuhur tiba, akhirnya saya, Badruz,Zakariya, dan Syaekhu memutuskan untuk menjemput Ipul di rumahnya, sementara yang lain terus mempersiapkan diri mereka. Ketika menjemput Ipul kami kebingungan karena menurut orang tuanya ada di rumah kakaknya, sedangkan dirumah kakaknya taka ada seorangpun di sana. Tiba - tiba Ipul muncul dan baru bangun tidur, dia lupa acara pensi ini. Dia segera bergegas menyiapkan apa saja yang akan di bawa, namun Ipul harus sholat dulu berjamaah bareng orang tuanya,kami pun hanya menuggu di luar rumahnya, sudah sekitar setengah jam kami menunggu tapi Ipul belum muncul juga, Badruz dan Zakariya yang tidak sabar pun akhirnya cabut dan kembali ke sekolah, sementara saya dan Syaekhu tetap setia menunggu. Dan setelah satu jam lebih sepuluh menit begitu lah kira - kira lamanya menunggu Ipul menurut jam tangan saya ini, akhirnya Ipul muncul dan siap - siap berangkat tanpa ucapan terimakasih dari kedua orang tuanya dan dari Ipul sendiri.
     Ketika pukul15:30 kami baru tampil, maklum negara kita kan ngaret, kami dengan semangat tampil di acara tersebut, walaupun penontonnya hanya segilintir karena sudah terlalu sore, namun kami tetap tampil penuh semangat. Dan ternyata penampilanXI ips 4 mendapat aplause dari para juri yang nampak sudah letih. Setelah acara selesai, kami segera menuju kelas untuk membereskan peralatan kami yang super ribet karena waktu sudah menunjukkan pukul 17:00, kami pun pulang menuju rumah masing - masing.
     Hari sabtunya setelah penampilan dari kelas Ipa tibalah pengumuman pemenang pensi terakhir bagi angkatan kami, karena di kelas XII nanti tidak ada pensi lagi. Sekitar jam16:30 ibu Imas membacakan juaranya dari kelas sepuluh, muncul X2 sebagai juara umum. Waktu semakin petang saja, dan saat yg di tunggu pun tiba Ips 4 bersaing dengan kelas bahasa yang sama - sama mengoleksi 4 piala, namun berhubung Ips 4memiliki juara 1 di Mc dan drama, sedangkan Bahasa hanya punya satu, otomatis kelas saya ini menjadi juara umum pensi. “juara umum pensi kelas XI di raih oleh.... Sebelas IPS empat” begitulah kira - kira kalimat yang di keluarkan dari mulut Ibu Imas yang membuat saya dan teman - teman saya jingkrak - jingkrak kegirangan, namun sang ketua, Badruz justru langsung naik ke atas panggung dan di terimanya pula piala yang lumayan besar dari Pak Heri. “yeeeaahhh,we know we got that” begitu lah kata Badruz. Sambil pulang ke kelas kami beramai - ramai menyanyikan lirik “di bawah kuasa pak syibli ku turuti semua perintah ini berjuta kali di marahi bagiku tetap saja hepi” pak Syibli pun hanya bisa tersenyum melihat murid didiknya terus mengagungkan namanya. Setelah nyampe dikelas, ya apalagi kalau bukan berfoto dengan piala yang di dapat dengan penuh perjuangan ekstra, bahkan ketika itu adzan maghrib hampir bekumandang darimasjid Al mustaqim weru. Kami menaruh 5 piala itu di meja pak Syibli lalubergegas pulang sambil membawa kegembiraan.
     Di akhir -akhir ajaran kelas XI, sekolah mengadakan study penelitian ke kota pelajar,Yogyakarta. Ketika itu kami berkumpul di masjid weru lalu berangkat ke makamsunan Gunung Jati dengan bus yang kurang layak menurut kami, banyak bus yang ACnya bocor, dan tampilan bus terlalu kuno yang kemudian di lanjutkan ke Sunankalijaga di Demak pada malam harinya. sepanjang perjalanan saya hanya tidursaja karena di samping jalan yang rusak, kondisi bus yang kurang layak, ditambah teman - teman yang sepertinya mulai kedinginan dengan AC. Paginya kamigagal ke pantai parangtritis di karenakan waktu sudah sangat mepet, sebagaigantinya kami hanya di bagikan uang sebsar sepuluh ribu rupiah saja. Kami berhenti sejenak di rumah makan pukul 07:00 pagi untuk sarapan dan mandi bagiyang ‘beruntung’. Kenapa saya bilang demikian? Karena hampir semua WC/toilet penuh dan sudah banyak yang ngantre, alhasil saya dan Surana yang berinisiatif untuk pergi ke rumah warga sekitar untuk hanya sekedar numpang mandi. Ketika kami menemukan sebuah mushola yang pastinya memiliki kamar mandi, ternyata kamikalah cepat dari teman X6 kami dulu, Bustomi yang juga membawa teman - temannyadari Ips 2. Akhirnya kami pun mandi bergantian dengan tertib. Ketika semua selesai, ternyata kami sudah di tunggu di rumah makan tadi untuk segera berangkat menuju pabrik gula madukismo, tak lupa kami semua yang numpang mandi di mushola itu berpamitan dan berterimaksih kepada warga sekitar yang sangat santun dan ramah sekali.
    Sesampainya dimadukismo langsung melihat sebuah presentasi dari mba’ siapa lupa namanya, yang pasti mba’ itu pernah saya lihat di acara mister tukul yang ternyata menayangkan keangkeran pabrik gula tertua di Yogyakarta tersebut. Saya langsung merinding ketika mengingat hal itu, apalagi ketika naik kereta milik pabrik tersebut melewati tempat yang angker seperti di tv. Mungkin tidak seseram di tv, karena waktu itu sekitar pukul 09:00 pagi di tambah cuaca kota pelajar saat itu sangatlah cerah sehingga membuat saya senang bisa berkeliling pabrik gula yang punya cabang juga di Cirebon, tepatnya di daerah jatitujuh. Setelah berkeliling pabrik, kami bergegas menuju bus untuk kemudian menuju kompleks candi Prambanan.
Sesampainya di sana saya berinisiatif mengajak surana dan zakariya untuk mandi lagi karena di samping kompleks candi ada masjid yang nampak mewah, ajakan saya ini di respon dengan bagus oleh keduanya yang kemudian membuat teman - teman laki - laki Ips 4 mengikutinya kecuali Badruz yang tidak ikut karena ada urusan keluarga. Ketika masuk masjid kami langsung mencari yang namanya toilet, ketika ketemu, kami seperti melihat Oase di padang pasir. Dan benar saja, bukan hanya desain masjid yang mewah, tetapi tempat wudhu serta kamar mandinya sangat banyak, kami pun mandi layaknya di rumah sendiri. Setelah mandi kami sholat dzuhur di sini. Setelah itu kami masuk kompleks candi dan langsung berfoto - foto, apalagi di situ banyak bule, Australia,Selandia Baru, India, Inggris, Amerika adalah beberapa negara asal bule - bule yang kami ajak foto bareng. Di antara bule tersebut terselip satu bule yang paling saya ingat, kala itu saya memakai jersey merah milik Manchester United. Kebetulan saya melihat ransel milik bule tersebut berlogo setan merah, saya mengajak teman - teman saya untuk berfoto bersama bule yang bernama Johnson itu. “excusme sir, can we take a photo with you?” saut saya ke bule itu yang dijawab “of course, wow look at this, are you Manchester United fan?” bule itu nanya sambil memegangi logo setan merah di jersey saya, saya jawab “yes sir,big fan of United, by the way  i’m wildan, from cirebon city” lalu bule itu menjawab “it’s nice, oh ya my nameJohnson from England, let’s take a photo guys” katanya. Sambil berfoto, Aji berujar “i’am madrid fan sir” sontak bule itu merespon dengan candaan “oh no,don’t touch me, you stole ronaldo hahaha” kami pun tertawa bersama yang tentunya menarik perhatian teman - teman lain.
Setelah  selesai berfoto kami harus segera pergi karena waktu sudah mepet sekali untuk segera ke Malioboro. Ketika menuju gerbang keluar candi, banyak pedagang asongan yang menawarkan berbagai cinderamata khas pramabanan yang tentunya membuat hasrat belanja kami muncul, Aji yang tak tahan pun hampir membeli gantungan kunci dengan harga Rp.10.000,00 per empat gantungan, namun berkat pengalaman saya dulu waktu di borobudur saya berhasil menahan Aji untuk membelinya karena akan ada pasar di depan. Ya benar saja,sebuah pasar menjual berbagai pernak - pernik khas Yogya. Dan gantungan yangAji inginkan pun banyak di jual disini dengan harga seribu perak per gantungan,saya pun membeli sepuluh, Aji sepuluh, yang akhirnya oleh pedagang memberi bonus dua gantungan lagi. Sementara itu Kidir hampir membeli baju Yogya yang terkenal dengan motifnya dan gambar yang lucu dengan harga Rp.50.000,00 perkaos, namun ‘lagi’ pengalaman saya berbicara, “dir, nanti saja beli di malioboro atau alun - alun lebih murah paling Cuma setengahnya”. Kidir pun mengiya kan perkataan saya karena melihat kasus Aji tadi. Kami pun naik bus lagimenuju alun- alun dan Malioboro.
    Setelah sampai,saya yang tadi ketiduran bentar ternyata di tinggal oleh teman - teman saya yang sudah terlebih dahulu turun dari bus, akhirnya saya pun turun dan mencari mereka, baru saja turun dari bus ada yang memanggilku “wildan” , dalam hati ini sepertinya kenal suara itu, yap suara Lulu dan Smile konengnya walaupun enggaklengkap. Lulu mengajak saya untuk bareng mencari oleh - oleh untuk saudara dirumah, tadinya Nisrina yang di sukai Farhan waktu kelas X6 mengajak kami untuk keliling sekitaran lapang parkir bus, tapi sekali lagi pengalaman saya berhasil membujuk mereka untuk naik becak saja berkeliling mencari toko oleh - oleh yang murah, Saya dan Gita satu becak, Nisrina, Lulu, dan Atikah satu becak. Saya bilang mang becaknya anterin ke gong 2000, karena saya tahu di situ kaos murah- murah, dan di depannya ada toko tas serta bakpia juga. Pertama kami, membeli bakpia dulu, saya beli 3 kotak sementara Lulu dan lainnya Cuma beli 1 kotak saja karena mereka sudah beli di toko Java yang kata saya sih di situ harganya mahal, kebetulan ketika berhenti di situ saya tidur saja. Setelah membeli bakpia, mulailah muncul sifat asli perempuan dari teman - teman saya ini,apalagi kalau bukan shopping. Nisrina, Atikah, dan Gita sampai - sampai harus menelpon orang tua mereka dulu untuk mendapatkan barang yang sesuai, mereka bertiga nampak kebingungan karena sepertinya banyak sekali yang akan mereka beli. Sementara mereka masih bingung, saya dan Lulu yang sudah membeli kaos untuk di bawa pulang, hanya bisa melihat mereka saja. Lulu yang nampaknya belum puas berbelanja mengajak saya untuk mengantarkannya ke toko tas yang ada didepan toko kaos tersebut, ketika sedang memilih, tiba - tiba mereka bertiga datang menghampiri kami dan lagi, hasrat wanita berbelanja kembali muncul, saya sebagai lelaki hanya bisa membantu mereka memilih barang favoritnya.
    Ketika selesai berbelanja, kami berniat berfoto di dua pohon beringin yang sering muncul di tv itu tepatnya di alun - alun kidul, namun sayang karena waktu yang mepet dan cuacanya agak gerimis akhirnya kami langsung kembali saja ke bus. ketika naik, ternyata bus sudah siap berangkat ke Cirebon hanya tinggal menuggu saya seorang. Ketika perjalanan pulang, praktis hanya rasa lelah yang tersisa kini, saya pun menikmati perjalanan pulang dengan tertidur pulas.
    Tak terasa ketika bangun bus kami berhenti sejenak di sebuah SPBU di daerah Bumiayu untukmengisi bensin sekaligus untuk sholat subuh karena jarum jam sudah berada diangka 05:00. Ternyata bus kami hanya di ikuti oleh satu bus lainnya, Sementara bus lain lewat jalur yang berbeda. Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju Cirebon, dan lagi saya tertidur lagi karena jalan berlubang dan aspal yang kurang mulus di daerah tersebut. Pada saat sudah sampai di Sumber, saya di bangunkan oleh teman saya Fahmi atau yang sering di panggil Gendut dari Ips 5, saya pun segera mengemas barang - barang saya yang terlihat paling banyak dan paling ribet di antara teman - teman lainnya. Saat sampai di Masjid weru, saya sudah di tunggu ibu saya yang menjemput tepat waktu, saya pun langsung pulang, dan melanjutkan tidur saya tadi.
     Saat kelas XII, di sinilah semua ‘kegilaan’ di mulai, secara perlahan saya, Badruz,Surana, dan Syaekhu mulai membentuk ‘tim’ yang konyol.
Setiap ada pelajaran berkelompok kami berempat selalu bersama entah hasil yang di capai sukses atau tidak setidaknya kami pernah mencoba. Walaupun sifat kami berbeda, Saya yang selalu melirik adik - adik kelas yang cantik, Badruz yang menggilai guru PPL,Surana yang terus gonta - ganti pacar, sementara Syaekhu sibuk dengan bacaan dan korannya. Kami biasanya pulang paling akhir di kelas, apalagi kami bertiga kecuali Syaekhu yang pulang paling duluan di antara kami berempat karena rumahnya yang jauh berbatasan dengan Indramayu. Selain main bola dulu, kami juga biasanya ngerjain tugas sehabis pulang sekolah biar besoknya tinggal nyantai saja, kadang juga kami hanya sekedar main game di laptop, nonton film yang seru termasuk film favorit kami berempat Fast & Furious, bahkan kami sampai hafal beberapa potongan percakapan antara para aktor dan aktrisnya, “Lifeis simple you make a choice and don’t look back” itulah salah satu potongan percakapan yang paling sering kami ucapkan. Ketika tidak ada gurupun kami biasa menyalakan laptop di meja sendiri dan menjadi tontonan bersama, alhasil laptoppun jadi laptop sejuta umat. Setiap bel pulang sekolah berbunyi, kami biasanya cari makanan terlebih dulu untuk mengganjal perut kami, setelah itu ya tadi, basket, bola, game, tugas, film, dan juga kami sering mengambil beberapa momen langka di sekolah untuk di potret di kamera. Begitulah rutinitas kami setiap hari, apalagi rabu dan sabtu adalah jadwalnya PSTD latihan, cewek kelas X yang masih imut - imut adalah ‘favorit’ kami, mataku selalu tertuju kepada Sri Rahayu, sementara Badruz tertuju pada anak perempuan ibu Tati, Fatia namanya. Bahkan kami bertiga pernah pulang sehabis maghrib karena saat itu hujan lebat di sertai petir, kami bertiga hanya bisa berlindung di mushola sekolah yang kini sudah menjadi ruang OSIS, beruntung mang Kowi sang penjaga sekolah masih mengetahui keberadaan kami jadi belum mengunci gerbang sekolah dan kami pun ditemani wi-fi super kencang dari ruangan kurikulum yang kebetulan kami sudah tahu passwordnya. Apalagi kelas kami di samping PMR yang bisa di bilang keperluan kami ada di situ, mulai dari minta minum kalau kami lagi kere, minjem kabel terminal supaya laptop dan hp bisa di charge bareng, bahkan ketika PMR dibongkar dan pindah ruangan kami ikut berpartisipasi mengangkut peralatan PMR sebagai rasa kebersamaan yang selama ini kami dan mereka jalin. Selain itu,kami juga sering travelling ke daerah Majalengka dan Kuningan kalau pulang cepat atau gurunya mau rapat, dan kami berempat pun di anggap paling narsis diantara yang lainnya, karena saya sering mengupload foto kami berempat sedang bergaya di suatu tempat objek wisata dengan pemandangan yang menyegarkan mata,atau hanya sekedar jepret di lingkungan sekolah dengan gaya khas kami yaitu menoleh kesamping sambil nongkrong layaknya para pria idaman wanita yang belum menemukan wanita idamannya, karena yang ada adalah para adik kelas X yang tiap kami lewat berteriak “kakaaaakkk” atau kalau lagi kere paling cuma main PS. apalagi kalau weekend datang, setiap sabtu kami selalu bersiap entah mau jalan - jalan, main ps, atau hanya nyantai di sekolah sampai menjelang maghrib datang.

Ya,pulang sore bersama rekan seperjuangan adalah momen sekali seumur hidup menurut saya, di tambah pemikiran dan kegilaanyang sama, sungguh luar biasa rasanya, bahkan sampai tulisan ini di ketik saya masih ingin mengulang masa ‘puncak kejayaan’ itu. begitulah kira - kira menurut pelajaran sejarah.  Saya pun masih tidak percaya harus berpisah secepat ini dengan mereka. Masih tergambar jelas bagaimana kami berempat di puji guru, dihukum, bahkan hampir di keluarkan bareng saat jam pelajaran berlangsung karena candaan kami yang berlebihan dan terkesan konyol hanya kami berempat yang mengerti. Bahkan kata kelas lain sih kelas kami ini paling menutup diri dan terkesan tidak bergaul dengan kelas IPS yang lainnya, namun kami hanya diam dan menjawab dengan prestasi. Juara pensi, juara lomba tumpeng, juara lomba tujuhbelasan, kebersihan kelas, debat bahasa inggris, lomba pelajaran ekonomi, lomba menjadi MC, drama, dan lain - lain sayapun lupa lomba apa saja. Namun kondisi berubah pada semester II karena tiap pulang sekolah harus ikut pengayaan samapai sore, jadi kebiasaan pulang sore kami yang biasanya di isi ‘gila -gilaan’ kali ini harus full time belajar, demi mempersiapkan diri untuk UN yang menentukan kami lulus atau tidak nantinya. Dari situ saya dapat mengambil kesimpulan walaupun kami berempat ini ‘konyol’ tapi kami tidak lupa belajar,karena terus belajar adalah kunci kesuksesan kelak.
        Alhamdulillah kami semua kelas XII MANCIREBON 1 di nyatakan LULUS, dan pada tanggal 24 Mei 2014 lalu, kami semua secara SAH di lepas oleh sekolah untuk melanjutkan lembaran baru dalam kehidupan kami yang tentunya akan lebih keras daripada sekarang.
    Saya masih terheran - heran, begitu cepat sekali waktu berlalu, baru kemarin rasanya duduk bersebelahan dengan Mustopa di MOS bareng, namun sekarang sudah memakai batik perpisahan dan berpisah dengan seluruh elemen yang ada di MAN CIREBON 1, mulaidari mba’ enjel sang penjual makanan yang membuat kami terus kenyang, mang dan ibu baso, penjual bubur, ibu nasi kuning di pojok kantin, mang kowi, mang sule yang biasa ngobrol bola dengan saya, staff TU yang sering menagih bayaran,kelas X yang unyu, kelas XI yang siap menggantikan kami, pak Effendi yang cool,pak Rojin dengan suara dan guyonan khasnya, pak Rojak dengan stylenya, mam Ana dan Umi yang kalau ngomong Inggris lancar banget, pak Syibli sang tetangga, ibu Yuli yang enak mengajar, ibu Tati yang kata teman - teman saya sih kaya Syahrini, ibu Susi yang selalu menasehati kami, pak Shobirin dengan jenggot khas dan  keakrabannya dengan murid,pakDarjo dengan cara berfikir yang menurut saya sih hebat,pak heri yang kadang jengkelin kadang bikin lucu, pak Sidkon dengan hadisnya yang harus kami hafalkan, ibu Yayah fauziah keagamaan, ibu Ngasliyah dengan jaitannya,ibu Retno yang ahli Sosiologi, ibu Ana yang dengan sabar mengajari kami, pak Daam dengan rumus kimianya, pak paat, pak Hasbullah, pak Anwar, pak Muhari, dan pak Kumaedi sang kepala madrasah ini, dan semuanya all about MAN CIREBON 1 saya sangat bangga sekolah di sini, dan saya berterimakasih sekali berkat kalian semua ilmu saya insyaallah bertambah.
     Tiga tahun yang luar biasa bagi saya bisa bersekolah di Madrasah yang kata orang bau unggas itu, namun bagi saya itu adalah bau yang harus di lewati sebelum bisa mencium bau surga. Itulah yang membuat saya semangat berangkat sekolah,walaupun dalam keadaan sakit sekalipun, bahkan selama saya sekolah di sini saya hanya bolos satu kali, karena saking semangatnya bersekolah di sini saya tidak pernah mengenal dengan namanya di hukum karena terlambat. Terimakasih MANCIREBON 1, mungkin cuma ini yang dapat saya tulis, semoga bermanfaat dan semoga MAN CIREBON 1 ini makin melebarkan sayapnya. Terimakasih masa putih abu -  abu. Seperti lagu almarhum Chrisye, “tiada masa paling indah, masa - masa di sekolah”. Itulah masa putih abu - abu, entah hitam atau putih, tergantung bagaimana kita menjalaninya, because life is simple you make a choice and don’t look back. sukses selalu!!!

Apabila ada yang kurang berkenan mohon di maafkan, ini cuma pengalaman pribadi yang  ingin saya share dengan rekan - rekan seperjuangan.yang belum ke tag maaf. That's my story from my history. Ini ceritaku, ceritamu ku tunggu. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar