HITAM ATAU PUTIH, ITULAH ABU - ABU.
Tanggal 16
Juli 2011 tepat pukul 07:00 Saya, M Wildan memulai masa putih abu - abu
di Madrasah aliyah yang setingkat dengan SMA Cuma beda atap,kalau SMA di
bawah atap departemen pendidikan,sedangkan Madrasah aliyah di bawah
naungan DEPAG, sebuah sekolah yang indah, ya MAN CIREBON 1,

Sekolah yang
letaknya strategis soalnya ada di pasar rakyat, pasar ayam, meskipun
kata orang bau unggas tapi itu tidak menyurutkan semangat saya untuk
bersekolah disini. Awalnya memang menegangkan,apalagi baru masuk gerbang
di hari pertama masuk sekolah aja sudah di hadang beberapa orang
memakai jas biru gelap beserta bapak guru berkumis, suara yang khas dan
sambil merokok, sambil melewati mereka semua saya merasa ngeri sekali,
mereka semua terus menatap saya dari ujung kepala saya sampai sepatu
saya yang tentu saja masih baru, namun rasa itu hilang begitu saja,
ketika bertemu teman - teman Mts saya yang di terima di sekolah ini
juga. Ucup,Ryan,Afifah,Farikha,Tria,Rere namun sayang kami bertujuh
nggak satu kelas, Ryan, Tria dan Afifah di X9, Ucup di X10, Rere X4
sementara Farikha menjadi tetangga kelas X6 saya di X5.
Ketika masuk kelas X6, saya hampir tidak mengenali siapapun di situ,
hanya Sufyan rekan SD saya dulu yang saya kenal, namun dia sudah berada
di bangku paling depan bersama Surana teman SMP nya yang akhirnya
menjadi kenalan pertama saya dikelas. Kami sedikit berbincang - bincang,
namun bel masuk menyudahi perbincangan kami, kami masuk dan di
instruksikan oleh satu suara dari speaker yang terpasang di kelas kami
yang ternyata adalah suara bapak Rojak yang kata alumni sih galak.
Akhirnya, setelah semua murid masuk ada yang duduk di samping saya
bernama Mustopa Ali, saya perhatikan sih orangnya pendiem, dan benar
saja,saya dengan pede nya ngajak kenalan. “Namanya siapa?” kalimat itu
dengan pedenya saya lontarkan kepada Mustopa. “Mustopa Ali, situ namanya
siapa? Terusdari sekolah mana?”. “Wildan, Mts Salafiyah Bode.” Lagi,
baru berbincang sebentar kami harus ngaji dulu, soalnya ngaji pagi
adalah agenda sekolah yang harus di jalani. Setelah ngaji, kakak - kakak
kelas yang akan nge MOS kami masuk. Sambil mengabsen, saya perhatikan
sekitar saya. Saya duduk di bangku kedua baris kedua dari kiri. Di depan
ada Sufyan sama Surana, saya dan Mustopa kedua, belakang saya ada
Mudzakir sama Bustomi, lalu Nendi dan Ridho. Sementara baris kami
terlihat masih canggung, baris sebelah kami rupanya sudah saling
berkenalan, Satori, Trisno, Fuad, Sodikin, selalu nyeletuk apalagi di
tambah dengan duo Indramayu yang tentu saja punya logat sendiri, Farhan
dan Ulum.Setelah hari pertama selesai tepat pukul 14:00, kami bergegas
pulang sambil membicarakan ‘benda gila’ apa saja yang akan di bawa buat
besok MOS.
Hari kedua berangkat ke ‘pasar ayam’ seperti
kemarin naik kuda besi bernopol E 4501 LT yang kata mang Sulaeman, satpam
sekolah sih di baca ASOI. Setelah sampai, untukkedua kalinya harus
melewati barisan jas biru gelap yang mereka sebut diri mereka OSIS,
namun kali ini beda, saya lewat tidak lurus kaya kemarin, tapi belok ke
kanan tembus ke kantin mang Kowi lalu lurus saja, dan sampailah saya di
kelas yang kata Bustomi sih ‘perempatan WC’ soalnya tepat berada
diperempatan yang banyak orang selalu menuju samping kelas kami untuk
pergi ke WC, entah hanya sekedar cuci muka, kebelet beneran, atau hanya
ingin bertemu si do’i. Hari kedua ini sama seperti kemarin, hanya saja
kali ini ada MPK yang masuk ngambek karena kami banyak belum lengkap
memakai atribut, termasuk saya yang waktu itu di suruh kedepan karena
atribut saya tidak lengkap. Namun, saya bersikeras untuk duduk, soalnya
MTs saya tidak ada dasi, sepatu bebas, akan tetapi MPK itu menggebrak
meja dan menyuruh saya maju, ketika hampir di marahi sang ketua MPK itu,
saya di selamatkan oleh salah satu anggota MPK yang kebetulan adalah
alumni MTs Salafiyah yang menasehati sang ketua dan memaklumi saya
karena memang begini atribut di sekolah saya dulu. Alhamdulillah saya
enggak jadi dimarahi, tapi sang ketua MPK itu melampiaskannya dengan
merobek celana ketat milik Surana. Saya merasa kasian, soalnya kata
Surana sih celananya baru beli kemarin. Miris sekali. Di hari ketiga,
lagi, Surana menjadi korban MPK, kali ini dia di suruh memakan roti yg
ukurannya lumayan besar dalam waktu 15 detik, kasian. Pada malam harinya
kami menginap di sekolah ini,sekitar pukul 10 malam, saya yang biasanya
sudah terlelap kali ini harus menahan kantuk yang terus menyerang saya,
apalagi waktu itu pak Rojin yang punya suara khas itu menayangkan video
berdurasi sekitar 10 menit yang menayangkan siksa kubur, bencana alam,
yang tentu saja membuat para murid ketakutan di tambah lagi suara pak
Rojin yang mengatakan “bayangkan jika andapulang dari sini ada bendera
kuning berkibar di depan rumah anda dan yangmeniggal ternyata adalah
orang tua anda!” sontak hampir semuanya ketakutan dan menangis, namun
beda dengan saya, yang malah ketiduran bersama Satori.
Pagi
harinya kami di kejutkan dengan pembagian kelas lagi, karena ada kelas
ketrampilan untuk X2 dan X3. Satori, Faisal, Ridho,Trisno, Mustopa dan
beberapa teman lainnya masuk ketrampilan, sehingga ada pengacakan
kembali, beruntung kami yang tidak ikut ketrampilan di pastikan tetap
bareng di X6, hanya ada tambahan Wandiyanto, Muhbit, Bagus, dan
Suparta.Posisi duduk pun berubah, saya pindah ke baris pertama posisi ke
3 bareng Farhan, depan kami ada Nendi bareng Bustomi, dan paling depan
ada Ulum dan Wandiyanto, sementara di belakang ada Fuad Sodikin dan
Muhbit, Samping saya dan Farhan ada Suparta dan Surana yang ternyata
adalah tetangga, sementara Mudzakir bareng Bagus yang dipilih untuk
menjadi ketua kelas X6 oleh ibu Nurhaidah selaku wali kelas X6.
Hari terus berganti, Waktu terus berjalan, satu sama lain sudah saling
mengenal, alhasil Fuad, Ulum, Sodikin, Nendi, yang notabene doyan ngoceh
di tambah dari perempuan ada Stevani, Dewi, Indah, Iba, Restu, dan
Rifqi yang kata Fuad sih Mama gede,tapi kata sodikinnya gardu listrik
berjalan. Dengan begitu, kelas X6 dinobatkan sebagai kelas paling ribut
oleh guru - guru. Setelah sebulan berlalu kami sudah akrab sekarang,
apalagi laki - laki kalo mau jajan pasti kaya kereta, satu kesini
buntutnya ngikut sini, pokoknya kebersamaannya terasa banget, apalagi
pas waktu MOE di bulan Maret di Jalaksana, Kuningan. Itu adalah
pengalaman yang amazing, camping di lapangan yang di kelilingi kuburan
sesuatu yang belum saya lakukan sebelumnya, mandi di sungai yang bening
bareng Nendi dan Farhan di tambah pemandangan sawah yang hijau serta
gunug ciremai yang gagah adalah sesuatu yang tak terlupakan, namun
kegembiraan itu berakhir ketika padamalam terakhir saya mengalami demam
dan panggilan dari pak Rojin “M Wildan darikelas X6 di tunggu orang
tuanya di sumber suara” benar - benar mengakhiri camping pertama saya
itu dan saya harus pulang ke rumah saya di Bode, sungguh pengalaman dan
penyesalan yang luar biasa ketika itu.
Semakin kesini kelas
makin menggila, saya yang awalnya pendiem dan malu - malu apalagi sama
perempuan, kini memberanikan diri untuk mengenali mereka, waktu itu saya
kenalan sama Lulu yang jago english sekaligus rival saya untuk bisa
meraih nilai bagus di pelajaran bahasa nomer satu di dunia itu. Satu -
satunya prestasi yang saya banggakan di english adalah ketika mendapat
skor nyarissempurna 99 dan berhasil mengalahkan Lulu, saya sangat
bahagia sekali ketika itu, dan Mam Umi seakan tidak percaya dengan apa
yang saya lakukan tersebut.
Ketika UTS pertama, X6 duduk
berdampingan dengan XII agama, saya duduk bareng Kak Faqih namanya,
walaupun tampangnya sangar sekali tapi ketika mengerjakan soal - soal
keagamaan dia nampak rileks sekali mengisinya. Saya memberanikan diri
untuk bertanya yang kebetulan saya lupa terjemahan ayat yang ada di
soal, dia dengan mudahnya mengartikan soal saya dengan kata per kata,
dan lebih hebatnya lagi essay yang tadinya saya jawab, ternyata kata kak
Faqih salah, dia membenarkannya dan ketika di bagikan hasilnya ternyata
essay saya yang di jawab oleh kakak kelas itu sempurna, tak ada salah
sedikitpun. Dan ternyata banyakteman - temannya yang menanyakan jawaban
ke kakak Faqih ini, termasuk kak Fathonah yang menurut saya sih cantik,
tapi sayang dia rajin nyontek sana nyontek sini. Jadi di situ saya benar
- benar terkecoh oleh tampang.
Di akhir tahun, ada acara
namanya pensi atau pentas seni, seluruh siswa di wajibkan ikut untuk
mendongkrak nilai mata pelajaran seni budaya. Bagus mengatur semuanya
agar adil, saya masuk ke kelompok drama,yah walaupun enggak menang tapi
banyak hal untuk dikenang, salah satunya rasa kekeluargaan yang sangat
terasa sekali ketika kelompok drama ini hampir bubar, karena ada
beberapa yang ingin pindah ke kelompok lain dan banyak yang malas
latihan, di saat itu pula kelompok lain menyemangati kami untuk bangkit
dan tampil di pensi tersebut. X6 menggondol 3 piala, lewat MC, tari, dan
musikalisasi puisi.
Dan akhirnya setelah kuranglebih 1 tahun bersama
semuanya harus terpisah karena masuk kelas XI harus memilih jurusan
masing - masing. Saya, Surana, Feni, Santy, dan Ari adalah alumni X6
yang masuk ke IPS 4.
Dan di kelas XI ini saya tidak menyangka
bertemu dengan wali kelas yang ternyata adalah orang Bode juga, namanya
Pak Syibli, sewaktu baru masuk di kelas XI ini yang letaknyadi depan
kantor, saya sangat terkejut, karena orang - orang disini sangat beda
dengan X6 yang langsung ‘nyetel’. Di sini saya harus beradaptasi dulu,
walaupun ada 4 orang yang sudah saya kenal plus satu orang Syaekhu yang
dulu pernah mondok di pesantren samping rumah saya, kenalan pertama saya
datang dari seorang yang tampil sederhana, namanya Badruzzaman. Sewaktu
pemilihan struktur organisasi kelas, pak Syibli sangat mengandalkan
sekali kepada saya, karena Cuma saya yang waktu itu beliau baru kenal.
Akhirnya terpilih lah Surana rekan saya. Terpilihnya Surana rupanya
menarik banyak perempuan yang ingin lebih dekat dengannya, salah satunya
Vivi. Dia juga perempuan yang pertama kali Surana lirik di kelas ini,
dan dia bilang ke saya “Dan ni cewek cantik tapi keliatannya galak” dan
saya jawab “kan baru pertama jadi baru keliatannya aja”. Mulai saat itu
saya dan Surana sering main ke bangku itu untuk sekedar berbincang
dengan Tuti, Solekha yang kalo ketawa punya ketawa yang khas, atau
ngemil bareng Liyanah biasanya.
Dan ketika UTS kelas saya
kali ini satu ruangan dengan adik kelas dari X9. Mata saya tertuju
kepada adik kelas memakai tas berwarna biru tosca, sayangnya dia berada
di ruangan sebelah yang di isi oleh XI ips 4 nomer absen 1 -
20,sedangkan saya absen 21. Ketika waktu istirahat, saya masuk ke
ruangan sebelah,sambil tengok kanan tengok kiri cari perempuan yang
anggun sekali menurut saya,dan ketika saya dan teman - teman saya sedang
asyik ngobrol sambil bermain -main, tak sengaja saya melempar penghapus
yang hampir mengenai kepalanya, dia pun menoleh kebelakang saya pun
mengambil penghapus itu dan sambil menatapnya,dalam hati ini berkata
“cantik sekali anak ini”. Dan hanya saling menatap tanpa seuntai kata,
tentu itu adalah hal yang bodoh untuk tidak mengajaknya berkenalan.
Ketika bel pulang, saya iseng nanya - nanya ke temen sekelas,ketika
sedang nanya ke Badruz, saya melihat Vivi sedang ngobrol dengan
perempuan itu. Sontak ketika mereka berpisah di gerbang saya langsung
nanya ke Vivi, “Vi, itu siapa? Kamu kenal?” langsung di jawab “oh itu
sih temen pondokdulu, tapi sekarang akunya udah enggak mondok, kenapa?
Kamu suka ya?” ketika Vivi bilang begitu saya tanpa pikir dulu bilang
“iya” dan Vivi kembali menjawab “wah dasar kamu, playboy. Namanya
Muthoharoh, panggilannya Mumut. Udah ah mau pulang nih, nanti aku kasih
nomernya aja deh.” Dengan jawaban Vivi seperti itu sayapun tersenyum
lebar sekaligus heran, heran karena mungkin ada benarnya jugakata Vivi,
kalo saya ini playboy, soalnya saya bisa mengobrol dengan 5 perempuan
dan bisa membagi waktunya, tapi saya sih sebut itu sebagai manuverlaki -
laki. Ketika pulang, saya baca sms dan ternayata Vivi langsung ngirim
nomer Mumut ke saya. Tanpa pikir panjang saya langsung sms
“Assalamualaikum”dan 2 menit kemudian di bales “walaikumusalam, kak
Wildan ya?”. Saya kaget bukan main karena dia sudah tahu terlebih
dahulu, “kok tau? Tau darimana Mut?”di jawab “dari mba Vivi kak”. Benar
saja ternyata Vivi yang ngasih tau.
Besoknya saya mengobrol
dengan Vivi, dan lebih kaget lagi “Dan, si Mumut tuh suka sama
kamu,respon coba” saya pun langsung membalas ucapan Vivi dengan tiga
huruf saja“Hah?” kaget bukan main, tapi mau bagaimana lagi? Begini saja
nilai saya sudah‘ngos - ngosan’ apalagi nanti pacaran. Waktu terus
bergulir, dan ketika sudahakrab banget, saya putuskan untuk kakak ade’an
aja sama mumut. Walaupun jawaban dia sedikit dengan nada kecewa, tapi
dia mau menerimanya.

Seperti tahun lalu, setiap awal tahun di
bulan ke 4 atau ke 5 akan diadakan pensi,kala itu ketua kelas sudah
ganti Badruz karena Surana mengundurkan diri. kali ini saya tidak ikut
drama tapi ikut ke perkusi yang hampir semua laki - laki di kelas gabung
kecuali Sigit MC, Syaekhu dan Zakariya drama. Seperti biasa, seperti
tahun lalu, ada saja yang membuat saya jengkel, banyak yang malas
latihan. Saya pun bosan terus - terusan diam, niat hati ingin
membangkitkan semangat teman -teman, namun mereka salah menagrtikan di
sangka saya ini egois, namun daripada terus berkelanjutan masalahnya
saya mengajak damai, dan akhirnya kami bisa latihan bareng dengan lagu
yang saya karang sendiri bersama zakariya walaupun dapat nyontek dari
lagu ‘buruh tani’. ‘berjuta kali di marahi, bagiku tetap saja happy’
begitu lahsalah satu lirik yang saya ciptakan. Waktu penampilan pensi
semakin dekat, dankami pun terus giat berlatih, dan waktu itu pun tiba.
Hari H pensi datang, kami tampil paling akhir jam 15:00 tapi berhubung
kebijakan ketua yang ingin gladiresik pagi akhirnya kami pun memutuskan
untuk datang di sekolah jam 9 pagi.Namun seperti biasa, jalan lurus tak
selamanya mulus, personil perkusi Saefullah belum datang juga hingga
dzuhur tiba, akhirnya saya, Badruz,Zakariya, dan Syaekhu memutuskan
untuk menjemput Ipul di rumahnya, sementara yang lain terus
mempersiapkan diri mereka. Ketika menjemput Ipul kami kebingungan karena
menurut orang tuanya ada di rumah kakaknya, sedangkan dirumah kakaknya
taka ada seorangpun di sana. Tiba - tiba Ipul muncul dan baru bangun
tidur, dia lupa acara pensi ini. Dia segera bergegas menyiapkan apa saja
yang akan di bawa, namun Ipul harus sholat dulu berjamaah bareng orang
tuanya,kami pun hanya menuggu di luar rumahnya, sudah sekitar setengah
jam kami menunggu tapi Ipul belum muncul juga, Badruz dan Zakariya yang
tidak sabar pun akhirnya cabut dan kembali ke sekolah, sementara saya
dan Syaekhu tetap setia menunggu. Dan setelah satu jam lebih sepuluh
menit begitu lah kira - kira lamanya menunggu Ipul menurut jam tangan
saya ini, akhirnya Ipul muncul dan siap - siap berangkat tanpa ucapan
terimakasih dari kedua orang tuanya dan dari Ipul sendiri.

Ketika pukul15:30 kami baru tampil, maklum negara kita kan ngaret, kami
dengan semangat tampil di acara tersebut, walaupun penontonnya hanya
segilintir karena sudah terlalu sore, namun kami tetap tampil penuh
semangat. Dan ternyata penampilanXI ips 4 mendapat aplause dari para
juri yang nampak sudah letih. Setelah acara selesai, kami segera menuju
kelas untuk membereskan peralatan kami yang super ribet karena waktu
sudah menunjukkan pukul 17:00, kami pun pulang menuju rumah masing -
masing.

Hari sabtunya setelah penampilan dari kelas Ipa
tibalah pengumuman pemenang pensi terakhir bagi angkatan kami, karena di
kelas XII nanti tidak ada pensi lagi. Sekitar jam16:30 ibu Imas
membacakan juaranya dari kelas sepuluh, muncul X2 sebagai juara umum.
Waktu semakin petang saja, dan saat yg di tunggu pun tiba Ips 4 bersaing
dengan kelas bahasa yang sama - sama mengoleksi 4 piala, namun
berhubung Ips 4memiliki juara 1 di Mc dan drama, sedangkan Bahasa hanya
punya satu, otomatis kelas saya ini menjadi juara umum pensi. “juara
umum pensi kelas XI di raih oleh.... Sebelas IPS empat” begitulah kira -
kira kalimat yang di keluarkan dari mulut Ibu Imas yang membuat saya
dan teman - teman saya jingkrak - jingkrak kegirangan, namun sang ketua,
Badruz justru langsung naik ke atas panggung dan di terimanya pula
piala yang lumayan besar dari Pak Heri. “yeeeaahhh,we know we got that”
begitu lah kata Badruz. Sambil pulang ke kelas kami beramai - ramai
menyanyikan lirik “di bawah kuasa pak syibli ku turuti semua perintah
ini berjuta kali di marahi bagiku tetap saja hepi” pak Syibli pun hanya
bisa tersenyum melihat murid didiknya terus mengagungkan namanya.
Setelah nyampe dikelas, ya apalagi kalau bukan berfoto dengan piala yang
di dapat dengan penuh perjuangan ekstra, bahkan ketika itu adzan
maghrib hampir bekumandang darimasjid Al mustaqim weru. Kami menaruh 5
piala itu di meja pak Syibli lalubergegas pulang sambil membawa
kegembiraan.
Di akhir -akhir ajaran kelas XI, sekolah
mengadakan study penelitian ke kota pelajar,Yogyakarta. Ketika itu kami
berkumpul di masjid weru lalu berangkat ke makamsunan Gunung Jati dengan
bus yang kurang layak menurut kami, banyak bus yang ACnya bocor, dan
tampilan bus terlalu kuno yang kemudian di lanjutkan ke Sunankalijaga di
Demak pada malam harinya. sepanjang perjalanan saya hanya tidursaja
karena di samping jalan yang rusak, kondisi bus yang kurang layak,
ditambah teman - teman yang sepertinya mulai kedinginan dengan AC.
Paginya kamigagal ke pantai parangtritis di karenakan waktu sudah sangat
mepet, sebagaigantinya kami hanya di bagikan uang sebsar sepuluh ribu
rupiah saja. Kami berhenti sejenak di rumah makan pukul 07:00 pagi untuk
sarapan dan mandi bagiyang ‘beruntung’. Kenapa saya bilang demikian?
Karena hampir semua WC/toilet penuh dan sudah banyak yang ngantre,
alhasil saya dan Surana yang berinisiatif untuk pergi ke rumah warga
sekitar untuk hanya sekedar numpang mandi. Ketika kami menemukan sebuah
mushola yang pastinya memiliki kamar mandi, ternyata kamikalah cepat
dari teman X6 kami dulu, Bustomi yang juga membawa teman - temannyadari
Ips 2. Akhirnya kami pun mandi bergantian dengan tertib. Ketika semua
selesai, ternyata kami sudah di tunggu di rumah makan tadi untuk segera
berangkat menuju pabrik gula madukismo, tak lupa kami semua yang numpang
mandi di mushola itu berpamitan dan berterimaksih kepada warga sekitar
yang sangat santun dan ramah sekali.
Sesampainya dimadukismo
langsung melihat sebuah presentasi dari mba’ siapa lupa namanya, yang
pasti mba’ itu pernah saya lihat di acara mister tukul yang ternyata
menayangkan keangkeran pabrik gula tertua di Yogyakarta tersebut. Saya
langsung merinding ketika mengingat hal itu, apalagi ketika naik kereta
milik pabrik tersebut melewati tempat yang angker seperti di tv. Mungkin
tidak seseram di tv, karena waktu itu sekitar pukul 09:00 pagi di
tambah cuaca kota pelajar saat itu sangatlah cerah sehingga membuat saya
senang bisa berkeliling pabrik gula yang punya cabang juga di Cirebon,
tepatnya di daerah jatitujuh. Setelah berkeliling pabrik, kami bergegas
menuju bus untuk kemudian menuju kompleks candi Prambanan.

Sesampainya
di sana saya berinisiatif mengajak surana dan zakariya untuk mandi lagi
karena di samping kompleks candi ada masjid yang nampak mewah, ajakan
saya ini di respon dengan bagus oleh keduanya yang kemudian membuat
teman - teman laki - laki Ips 4 mengikutinya kecuali Badruz yang tidak
ikut karena ada urusan keluarga. Ketika masuk masjid kami langsung
mencari yang namanya toilet, ketika ketemu, kami seperti melihat Oase di
padang pasir. Dan benar saja, bukan hanya desain masjid yang mewah,
tetapi tempat wudhu serta kamar mandinya sangat banyak, kami pun mandi
layaknya di rumah sendiri. Setelah mandi kami sholat dzuhur di sini.
Setelah itu kami masuk kompleks candi dan langsung berfoto - foto,
apalagi di situ banyak bule, Australia,Selandia Baru, India, Inggris,
Amerika adalah beberapa negara asal bule - bule yang kami ajak foto
bareng. Di antara bule tersebut terselip satu bule yang paling saya
ingat, kala itu saya memakai jersey merah milik Manchester United.
Kebetulan saya melihat ransel milik bule tersebut berlogo setan merah,
saya mengajak teman - teman saya untuk berfoto bersama bule yang bernama
Johnson itu. “excusme sir, can we take a photo with you?” saut saya ke
bule itu yang dijawab “of course, wow look at this, are you Manchester
United fan?” bule itu nanya sambil memegangi logo setan merah di jersey
saya, saya jawab “yes sir,big fan of United, by the way i’m wildan, from
cirebon city” lalu bule itu menjawab “it’s nice, oh ya my nameJohnson
from England, let’s take a photo guys” katanya. Sambil berfoto, Aji
berujar “i’am madrid fan sir” sontak bule itu merespon dengan candaan
“oh no,don’t touch me, you stole ronaldo hahaha” kami pun tertawa
bersama yang tentunya menarik perhatian teman - teman lain.

Setelah
selesai berfoto kami harus segera pergi karena waktu sudah mepet sekali
untuk segera ke Malioboro. Ketika menuju gerbang keluar candi, banyak
pedagang asongan yang menawarkan berbagai cinderamata khas pramabanan
yang tentunya membuat hasrat belanja kami muncul, Aji yang tak tahan pun
hampir membeli gantungan kunci dengan harga Rp.10.000,00 per empat
gantungan, namun berkat pengalaman saya dulu waktu di borobudur saya
berhasil menahan Aji untuk membelinya karena akan ada pasar di depan. Ya
benar saja,sebuah pasar menjual berbagai pernak - pernik khas Yogya.
Dan gantungan yangAji inginkan pun banyak di jual disini dengan harga
seribu perak per gantungan,saya pun membeli sepuluh, Aji sepuluh, yang
akhirnya oleh pedagang memberi bonus dua gantungan lagi. Sementara itu
Kidir hampir membeli baju Yogya yang terkenal dengan motifnya dan gambar
yang lucu dengan harga Rp.50.000,00 perkaos, namun ‘lagi’ pengalaman
saya berbicara, “dir, nanti saja beli di malioboro atau alun - alun
lebih murah paling Cuma setengahnya”. Kidir pun mengiya kan perkataan
saya karena melihat kasus Aji tadi. Kami pun naik bus lagimenuju alun-
alun dan Malioboro.
Setelah sampai,saya yang tadi ketiduran
bentar ternyata di tinggal oleh teman - teman saya yang sudah terlebih
dahulu turun dari bus, akhirnya saya pun turun dan mencari mereka, baru
saja turun dari bus ada yang memanggilku “wildan” , dalam hati ini
sepertinya kenal suara itu, yap suara Lulu dan Smile konengnya walaupun
enggaklengkap. Lulu mengajak saya untuk bareng mencari oleh - oleh untuk
saudara dirumah, tadinya Nisrina yang di sukai Farhan waktu kelas X6
mengajak kami untuk keliling sekitaran lapang parkir bus, tapi sekali
lagi pengalaman saya berhasil membujuk mereka untuk naik becak saja
berkeliling mencari toko oleh - oleh yang murah, Saya dan Gita satu
becak, Nisrina, Lulu, dan Atikah satu becak. Saya bilang mang becaknya
anterin ke gong 2000, karena saya tahu di situ kaos murah- murah, dan di
depannya ada toko tas serta bakpia juga. Pertama kami, membeli bakpia
dulu, saya beli 3 kotak sementara Lulu dan lainnya Cuma beli 1 kotak
saja karena mereka sudah beli di toko Java yang kata saya sih di situ
harganya mahal, kebetulan ketika berhenti di situ saya tidur saja.
Setelah membeli bakpia, mulailah muncul sifat asli perempuan dari teman -
teman saya ini,apalagi kalau bukan shopping. Nisrina, Atikah, dan Gita
sampai - sampai harus menelpon orang tua mereka dulu untuk mendapatkan
barang yang sesuai, mereka bertiga nampak kebingungan karena sepertinya
banyak sekali yang akan mereka beli. Sementara mereka masih bingung,
saya dan Lulu yang sudah membeli kaos untuk di bawa pulang, hanya bisa
melihat mereka saja. Lulu yang nampaknya belum puas berbelanja mengajak
saya untuk mengantarkannya ke toko tas yang ada didepan toko kaos
tersebut, ketika sedang memilih, tiba - tiba mereka bertiga datang
menghampiri kami dan lagi, hasrat wanita berbelanja kembali muncul, saya
sebagai lelaki hanya bisa membantu mereka memilih barang favoritnya.
Ketika selesai berbelanja, kami berniat berfoto di dua pohon beringin
yang sering muncul di tv itu tepatnya di alun - alun kidul, namun sayang
karena waktu yang mepet dan cuacanya agak gerimis akhirnya kami
langsung kembali saja ke bus. ketika naik, ternyata bus sudah siap
berangkat ke Cirebon hanya tinggal menuggu saya seorang. Ketika
perjalanan pulang, praktis hanya rasa lelah yang tersisa kini, saya pun
menikmati perjalanan pulang dengan tertidur pulas.
Tak terasa
ketika bangun bus kami berhenti sejenak di sebuah SPBU di daerah Bumiayu
untukmengisi bensin sekaligus untuk sholat subuh karena jarum jam sudah
berada diangka 05:00. Ternyata bus kami hanya di ikuti oleh satu bus
lainnya, Sementara bus lain lewat jalur yang berbeda. Kemudian kami
melanjutkan perjalanan menuju Cirebon, dan lagi saya tertidur lagi
karena jalan berlubang dan aspal yang kurang mulus di daerah tersebut.
Pada saat sudah sampai di Sumber, saya di bangunkan oleh teman saya
Fahmi atau yang sering di panggil Gendut dari Ips 5, saya pun segera
mengemas barang - barang saya yang terlihat paling banyak dan paling
ribet di antara teman - teman lainnya. Saat sampai di Masjid weru, saya
sudah di tunggu ibu saya yang menjemput tepat waktu, saya pun langsung
pulang, dan melanjutkan tidur saya tadi.
Saat kelas XII, di
sinilah semua ‘kegilaan’ di mulai, secara perlahan saya, Badruz,Surana,
dan Syaekhu mulai membentuk ‘tim’ yang konyol.

Setiap ada pelajaran
berkelompok kami berempat selalu bersama entah hasil yang di capai
sukses atau tidak setidaknya kami pernah mencoba. Walaupun sifat kami
berbeda, Saya yang selalu melirik adik - adik kelas yang cantik, Badruz
yang menggilai guru PPL,Surana yang terus gonta - ganti pacar, sementara
Syaekhu sibuk dengan bacaan dan korannya. Kami biasanya pulang paling
akhir di kelas, apalagi kami bertiga kecuali Syaekhu yang pulang paling
duluan di antara kami berempat karena rumahnya yang jauh berbatasan
dengan Indramayu. Selain main bola dulu, kami juga biasanya ngerjain
tugas sehabis pulang sekolah biar besoknya tinggal nyantai saja, kadang
juga kami hanya sekedar main game di laptop, nonton film yang seru
termasuk film favorit kami berempat Fast & Furious, bahkan kami
sampai hafal beberapa potongan percakapan antara para aktor dan
aktrisnya, “Lifeis simple you make a choice and don’t look back” itulah
salah satu potongan percakapan yang paling sering kami ucapkan. Ketika
tidak ada gurupun kami biasa menyalakan laptop di meja sendiri dan
menjadi tontonan bersama, alhasil laptoppun jadi laptop sejuta umat.
Setiap bel pulang sekolah berbunyi, kami biasanya cari makanan terlebih
dulu untuk mengganjal perut kami, setelah itu ya tadi, basket, bola,
game, tugas, film, dan juga kami sering mengambil beberapa momen langka
di sekolah untuk di potret di kamera. Begitulah rutinitas kami setiap
hari, apalagi rabu dan sabtu adalah jadwalnya PSTD latihan, cewek kelas X
yang masih imut - imut adalah ‘favorit’ kami, mataku selalu tertuju
kepada Sri Rahayu, sementara Badruz tertuju pada anak perempuan ibu
Tati, Fatia namanya. Bahkan kami bertiga pernah pulang sehabis maghrib
karena saat itu hujan lebat di sertai petir, kami bertiga hanya bisa
berlindung di mushola sekolah yang kini sudah menjadi ruang OSIS,
beruntung mang Kowi sang penjaga sekolah masih mengetahui keberadaan
kami jadi belum mengunci gerbang sekolah dan kami pun ditemani wi-fi
super kencang dari ruangan kurikulum yang kebetulan kami sudah tahu
passwordnya. Apalagi kelas kami di samping PMR yang bisa di bilang
keperluan kami ada di situ, mulai dari minta minum kalau kami lagi kere,
minjem kabel terminal supaya laptop dan hp bisa di charge bareng,
bahkan ketika PMR dibongkar dan pindah ruangan kami ikut berpartisipasi
mengangkut peralatan PMR sebagai rasa kebersamaan yang selama ini kami
dan mereka jalin. Selain itu,kami juga sering travelling ke daerah
Majalengka dan Kuningan kalau pulang cepat atau gurunya mau rapat, dan
kami berempat pun di anggap paling narsis diantara yang lainnya, karena
saya sering mengupload foto kami berempat sedang bergaya di suatu tempat
objek wisata dengan pemandangan yang menyegarkan mata,atau hanya
sekedar jepret di lingkungan sekolah dengan gaya khas kami yaitu menoleh
kesamping sambil nongkrong layaknya para pria idaman wanita yang belum
menemukan wanita idamannya, karena yang ada adalah para adik kelas X
yang tiap kami lewat berteriak “kakaaaakkk” atau kalau lagi kere paling
cuma main PS. apalagi kalau weekend datang, setiap sabtu kami selalu
bersiap entah mau jalan - jalan, main ps, atau hanya nyantai di sekolah
sampai menjelang maghrib datang.


Ya,pulang sore bersama rekan
seperjuangan adalah momen sekali seumur hidup menurut saya, di tambah
pemikiran dan kegilaanyang sama, sungguh luar biasa rasanya, bahkan
sampai tulisan ini di ketik saya masih ingin mengulang masa ‘puncak
kejayaan’ itu. begitulah kira - kira menurut pelajaran sejarah. Saya pun
masih tidak percaya harus berpisah secepat ini dengan mereka. Masih
tergambar jelas bagaimana kami berempat di puji guru, dihukum, bahkan
hampir di keluarkan bareng saat jam pelajaran berlangsung karena candaan
kami yang berlebihan dan terkesan konyol hanya kami berempat yang
mengerti. Bahkan kata kelas lain sih kelas kami ini paling menutup diri
dan terkesan tidak bergaul dengan kelas IPS yang lainnya, namun kami
hanya diam dan menjawab dengan prestasi. Juara pensi, juara lomba
tumpeng, juara lomba tujuhbelasan, kebersihan kelas, debat bahasa
inggris, lomba pelajaran ekonomi, lomba menjadi MC, drama, dan lain -
lain sayapun lupa lomba apa saja. Namun kondisi berubah pada semester II
karena tiap pulang sekolah harus ikut pengayaan samapai sore, jadi
kebiasaan pulang sore kami yang biasanya di isi ‘gila -gilaan’ kali ini
harus full time belajar, demi mempersiapkan diri untuk UN yang
menentukan kami lulus atau tidak nantinya. Dari situ saya dapat
mengambil kesimpulan walaupun kami berempat ini ‘konyol’ tapi kami tidak
lupa belajar,karena terus belajar adalah kunci kesuksesan kelak.
Alhamdulillah kami semua kelas XII MANCIREBON 1 di nyatakan LULUS,
dan pada tanggal 24 Mei 2014 lalu, kami semua secara SAH di lepas oleh
sekolah untuk melanjutkan lembaran baru dalam kehidupan kami yang
tentunya akan lebih keras daripada sekarang.
Saya masih
terheran - heran, begitu cepat sekali waktu berlalu, baru kemarin
rasanya duduk bersebelahan dengan Mustopa di MOS bareng, namun sekarang
sudah memakai batik perpisahan dan berpisah dengan seluruh elemen yang
ada di MAN CIREBON 1, mulaidari mba’ enjel sang penjual makanan yang
membuat kami terus kenyang, mang dan ibu baso, penjual bubur, ibu nasi
kuning di pojok kantin, mang kowi, mang sule yang biasa ngobrol bola
dengan saya, staff TU yang sering menagih bayaran,kelas X yang unyu,
kelas XI yang siap menggantikan kami, pak Effendi yang cool,pak Rojin
dengan suara dan guyonan khasnya, pak Rojak dengan stylenya, mam Ana dan
Umi yang kalau ngomong Inggris lancar banget, pak Syibli sang tetangga,
ibu Yuli yang enak mengajar, ibu Tati yang kata teman - teman saya sih
kaya Syahrini, ibu Susi yang selalu menasehati kami, pak Shobirin dengan
jenggot khas dan keakrabannya dengan murid,pakDarjo dengan cara
berfikir yang menurut saya sih hebat,pak heri yang kadang jengkelin
kadang bikin lucu, pak Sidkon dengan hadisnya yang harus kami hafalkan,
ibu Yayah fauziah keagamaan, ibu Ngasliyah dengan jaitannya,ibu Retno
yang ahli Sosiologi, ibu Ana yang dengan sabar mengajari kami, pak Daam
dengan rumus kimianya, pak paat, pak Hasbullah, pak Anwar, pak Muhari,
dan pak Kumaedi sang kepala madrasah ini, dan semuanya all about MAN
CIREBON 1 saya sangat bangga sekolah di sini, dan saya berterimakasih
sekali berkat kalian semua ilmu saya insyaallah bertambah.

Tiga tahun yang luar biasa bagi saya bisa bersekolah di Madrasah yang
kata orang bau unggas itu, namun bagi saya itu adalah bau yang harus di
lewati sebelum bisa mencium bau surga. Itulah yang membuat saya semangat
berangkat sekolah,walaupun dalam keadaan sakit sekalipun, bahkan selama
saya sekolah di sini saya hanya bolos satu kali, karena saking
semangatnya bersekolah di sini saya tidak pernah mengenal dengan namanya
di hukum karena terlambat. Terimakasih MANCIREBON 1, mungkin cuma ini
yang dapat saya tulis, semoga bermanfaat dan semoga MAN CIREBON 1 ini
makin melebarkan sayapnya. Terimakasih masa putih abu - abu. Seperti
lagu almarhum Chrisye, “tiada masa paling indah, masa - masa di
sekolah”. Itulah masa putih abu - abu, entah hitam atau putih,
tergantung bagaimana kita menjalaninya, because life is simple you make a
choice and don’t look back. sukses selalu!!!
Apabila
ada yang kurang berkenan mohon di maafkan, ini cuma pengalaman pribadi
yang ingin saya share dengan rekan - rekan seperjuangan.yang belum ke
tag maaf. That's my story from my history. Ini ceritaku, ceritamu ku
tunggu. :)